Laporan
Keperawatan
Transkultural
Keperawatan sebagai disiplin ilmu
pengetahuan yang mempelajari respon manusia secara unik tidak terlepas dari
kebudayaan. Kebudayaan akan memeberikan pengaruh terhadap penyakit yang dialami
oleh klien. Masing-masing orang memiliki kepercayaan atau keyakinan sendiri
terhadap budayanya. Mereka cenderung akan mempertahankan kebudayaan yang
dimilikinya. Oleh karena itu sebagai perawat harus memahami adanya
transkultural dalam keperawatan agar dapat memberikan asuhan yang komprehensif
dan holistik.
Keperawatan transkultural merupakan
keperawatan lintas budaya. Budaya dianggap sebagai bagian penting dalam
mencapai kesejahteraan kesehatan. Keperawatan transkultural merupakan praktik
pada kultur yang spesifik dan universal. Prinsip dari keperawatan transkultural
yaitu caring, value, dan practice (Gulbu
Tortumluoglu, 2006).
Caring adalah poin penting yang harus
dimiliki oleh perawat agar mampu memberikan asuhan keperawatan yang optimal. Value atau nilai dalam keperawatan
transkultral merupakan keyakinan yang dimiliki oleh setap orang, dimana nilai
yang dimilikinya dipengaruhi oleh kebudayaan. Practice dalam keperawatan transkultural mengandung arti bahwa
perawat memiliki kemampuan untuk mempertahankan, memodifikasi, dan mengubah
kebudayaan klien untuk tujuan kesehatan (Gulbu Tortumluoglu, 2006).
Keperawatan transkultural muncul
diprakarsai oleh beberapa tokoh keperawatan. Teori yang terkenal yaitu teori
Leininger. Dalam teori Leininger disebutkan bahwa keperawatan transkultural
berfokus pada perbedaan dan peramaan kebudayaan. Konsep dari keperawatan
transkultural antara lain (Gulbu Tortumluoglu, 2006):
a. Budaya
yaitu norma yang dipelajari dalam anggota kelompok, digunakan sebagai acuan
dalam brpikir, dan bertindak
b. Nila
budaya yaitu keinginan individu untuk mempertahankan tindakan
c. Perbedaan
buaya dalam asuhan keperawatan merupakan pemberian asuhan keperawatan yang
menghasrgai nilai budaya individu
d. Etnsentris
merupakan anggapan individu bahwa budaya yang dimilikinya adalah yang terbaik
e. Etnis
merupakan penggolongan manusia atau kelompo tertentu berdasarkan ciri-ciri
kebiasaa
f. Ras
merupakan pengklasifikasian manusia berdasarkan karekteristik fisik
g. Etnografi
adalah ilmu yang mempelajari tentang budaya
h. Care
adalah bimbingan atau bantuan terhadap manusia untuk optimalisasi kesehatannya
i. Caring
merupakan tindakan langsung untuk membimbing menuju kesehatan yang optimal
j. Cultural
care kemampuan kognitif untuk mencapai caring
k. Cultural
imposition merupakan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan keyakinan
yang dimiliki.
Disamping teori
Leininger, terdapat The giger and Davidhizer Transcultural Assesment model dan Purnel
Model for Cultural Competence. Model giger dan davidhidzer menyatakan terdapat
6 fenomena transkultural yaitu environmental
control, biological variation, social organitation, communication, space, dan
time orientation. Sedangkan purnel model membagi perawatan transkultural
dalam 12 domain yaitu overview atau
heritage, communication, family roles and organzation, workforce, biocultural
ecology, high risk behavior, pregnancy and childbearing practice, death
rituals, health care practice, dan health care practitioner (Gulbu
Tortumluoglu, 2006).
Proses perawatan
transkultural meliputi pengkajian, diangnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi, evaluasi dan dokumentasi. Pengkajian keperawatan transkultural
berdasarkan pada sunrise model yaitu
faktor teknologi, agama dan falsafah hidup, faktor sosial dan keterikatan
keluarga, nilai nilai budaya dan gaya hidup, faktor kebijakan dan peraturan
yang berlaku, faktor ekonomi dan pendidikan. Dalam melakukan pengkajian budaya
perawat diharapkan tidak menggunakan asumsi, tidak membuat streotip, menerima
dan memahami metode komunikasi, menghargai perbedaan individual, mengahrgai
kebutuhab personal, tidak boleh membedakan keyakinan klien, dan menjaga privasi
(Bacote, 2002).
Strategi dalam
keperawatan transkultural meliputi mempertahankan, menegosiasi, dan mengubah
budaya. Mempertahankan budaya dilakukan apabila budaya klien tidak bertentangan
dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai
dengan nilai-nilai yang relevan dengan klien. Negosiasi budaya dlakukan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan
kesehatan, sedangkan mengganti kebudayaan diberikan ketika budaya klien
merugikan kesehatan.contoh dari mengganti kebudayaan yaitu perawat
merestrukturisasi kebiasaan merokok menjadi tidak merokok (Bacote, 2002).
Pengaruh
kebudayaan terhadap keputusan penyelesaian masalah kesehatan sangatlah besar.
Manusia hidup dalam suatu komunitas tertentu yang di dalam nya terdapat aturan
yang diwariskan secara turun menurun. Aturan tersebut mendasari manusia dalam
berpikir dan bertindak.begitu juga dengan persepsi sehat sakit, akan berbeda
antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Hal ini berkaitan dengan keyakinan
dalam paradigma kesehatan mengenai etiologi penyakit yaitu biomedis,
naturalistik, dan magico religius (Spector, 2005).
Keperawatan
transkultural merupakan keperawatan lintas budaya dengan teori keperawatan yang
terkenal yaitu Leininger. Pengkajian berdasarkan model sunrise dengan
menggunakan strategi mempertahankan, menegosiasi, dan mengganti kebudayaan.
Pengaruh budaya terhadap kesehatan merupakan bagian penting dalam keperawatan
yang tidak boleh diabaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar