Minggu, 20 April 2014

komplementer

Laporan Small Group Discussion 1
Terapi Komplementer

Respon klien terhadap sakitnya akan berbeda satu sama lain. Klien bersifat unik, oleh karena itu perawatan kesehatannya pun dilakukan secara holistik komprehensif. Klien hidup dalam suatu komunitas kebudayaan yang akan mempengaruhi cara mereka menyelesaikan masalah kesehatannya. Berbagai  jenis pengobatan berkembang pada era globalisasi, sehingga keputusan pengobatan yang dipilih semakin beragam. Selain pengobatan medis konvensional, dewasa ini terapi komplementer banyak diminati oleh masyarakat. Fenomena tersebut memberikan peluang terhadap tenaga kesehatan khususnya perawat untuk mengembangkan kompetensinya sebagai terapis maupun sebagai pendamping klien dalam memilih pengobatan dan perawatan yang tepat. Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai kompetensi tersebut salah satunya dengan memperdalam pengetahuan tentang terapi komplementer, sehingga dalam laporan ini akan dibahas mengenai terapi komplementer.
Terapi komplementer merupakan terapi pelengkap pengobatan medis konvensional. Terapi komplementer bersifat holistik dan bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Terapi ini diklasifikasikan menjadi 5 macam yaitu alternative medical system, mind body intervention, biologically based therapies, manipulated and body based methods, dan energy therapies. Masing-masing jenis terapi tersebut berfokus pada integrasi pikiran, tubuh dan jiwa (Zahrawani, 2010).
Alternative medical system yaitu pengobatan alternatif yang berkembang sebelum pengobatan konvensional ditemukan. Pengobatan ini dikembangkan berdasarkan pengobatan dari barat. Banyak masyarakat memilih pengobatan alternatif sebagai pilihan pengobatan pertama yang dipilih. Contoh pengobatan alternatif yaitu pengobatan tradisional cina (Zahrawani, 2010).
Mind body intervention merupakan pendayagunaan kapasitas pikiran untuk mengoptimalkan fungsi tubuh. Fokus terapi ini adalah menciptakan keseimbangan antara pikiran, emosi, dan pernapasan. Contohnya yaitu meditasi, hipnotherapy, dan mental healing (Zahrawani, 2010).
Biological-based therapy adalah terapi yang memanfaatkan bahan-bahan alami yang berada di alam. Contohnya yaitu obat herbal, dan suplemen.  Khusus untuk obat herbal, pemerintah menetapkan  Keputusan Menkes RI Nomor 121 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Medik Herba (Heinrich, Barnes, Gibbons, & Wiliamson, 2009).
Manipulative and body based methode yaitu terapi dengan cara memberikan perangsanagan pada tubuh untuk mengembalikan fungsi normal tubuh. Perangsangan dapat berupa sentuhan, tekanan, maupun menggerkan anggota tubuh. Contoh terapi yaitu masase, akupresur, dan yoga (Zahrawani, 2010).
Energy therapy yaitu pendayagunakan sumber energi untuk memperbaiki fungsi sistem tubuh dengan menggunakan tenaga yag berasal dari dalam dan luar tubuh. Energy therapy terdiri dari biofield therapise dan bioelectromagnetic. Biofield therapies  dilakukan dengan memasukkan energi positif ke dalam diri klien baik secara lagsung maupun jarak jauh, contoh terapi ini yaitu reiki. Sedangkan electromagnetic yaitu memangfaatkan barang2 yang bersifat magnetis (Heinrich et al., 2009) .
Macam-macam terapi komplementer tersebut berhubungan dengan keyakinan klien dalam meyakini penyakit yang dideritanya serta pengobatan yang dipilih. Tenaga kesehatan perlu mengidentifikasi keyakinan klien akan penyakitnya. Berdasarkan paradigma keperawatan penyakit dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu biomedical sientific, naturalistic atau holistic, dan magico religius (Spector, 2005).
Biomedical scientific yaitu penyakit terjadi secara ilmiah. Dimana penyebab penyakit dapat berup virus, bakteri, protozoa maupun agen infeksius lainnya. Pengobatan yang dapat dilakukan pun dapat dibuktikan secara ilmiah, contohnya antibiotik ditemukan untuk mengobati penyakit infeksi (Spector, 2005).
Naturalistic atau holistik merupakan keyakinan bahwa penyakit berasal dari kekuatan alam.Interksi manusia dengan lingkungan haruslah seimbang, apabila terjadi ketidakseimbangan maka manusia akan sakit. Contoh dari naturaistic yaitu kepercayaan pana dingin, masuk angin, dan penyakit bawaan (Spector, 2005) .
Magico religius yaitu penyakit berasal dari kekuatan supranatural. Penyakit dianggap sebaagai hukuman atas perilaku berdosa yang telah dilakukan. Pengobatan yang dilakukan dengan memanfaatkan tokoh supranatural (Spector, 2005).

Beragamnya penyelesaian masalah serta keyakinan masyarakat akan kesehatannya menjadikan terapi komplementer digunakan sebagai pelengkap pengobatan konvensional. Tujuan terapi komplementer untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Fokus perawatan bersifat holistik dan mengintegrasikan pikiran, tubuh, dan jiwa.

Keperawatan transkultural

Laporan
Keperawatan Transkultural
Keperawatan sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang mempelajari respon manusia secara unik tidak terlepas dari kebudayaan. Kebudayaan akan memeberikan pengaruh terhadap penyakit yang dialami oleh klien. Masing-masing orang memiliki kepercayaan atau keyakinan sendiri terhadap budayanya. Mereka cenderung akan mempertahankan kebudayaan yang dimilikinya. Oleh karena itu sebagai perawat harus memahami adanya transkultural dalam keperawatan agar dapat memberikan asuhan yang komprehensif dan holistik.
Keperawatan transkultural merupakan keperawatan lintas budaya. Budaya dianggap sebagai bagian penting dalam mencapai kesejahteraan kesehatan. Keperawatan transkultural merupakan praktik pada kultur yang spesifik dan universal. Prinsip dari keperawatan transkultural yaitu caring, value, dan practice (Gulbu Tortumluoglu, 2006). Caring adalah poin penting yang harus dimiliki oleh perawat agar mampu memberikan asuhan keperawatan yang optimal. Value atau nilai dalam keperawatan transkultral merupakan keyakinan yang dimiliki oleh setap orang, dimana nilai yang dimilikinya dipengaruhi oleh kebudayaan. Practice dalam keperawatan transkultural mengandung arti bahwa perawat memiliki kemampuan untuk mempertahankan, memodifikasi, dan mengubah kebudayaan klien untuk tujuan kesehatan (Gulbu Tortumluoglu, 2006).
Keperawatan transkultural muncul diprakarsai oleh beberapa tokoh keperawatan. Teori yang terkenal yaitu teori Leininger. Dalam teori Leininger disebutkan bahwa keperawatan transkultural berfokus pada perbedaan dan peramaan kebudayaan. Konsep dari keperawatan transkultural antara lain (Gulbu Tortumluoglu, 2006):
a.    Budaya yaitu norma yang dipelajari dalam anggota kelompok, digunakan sebagai acuan dalam brpikir, dan bertindak
b.    Nila budaya yaitu keinginan individu untuk mempertahankan tindakan
c.    Perbedaan buaya dalam asuhan keperawatan merupakan pemberian asuhan keperawatan yang menghasrgai nilai budaya individu
d.   Etnsentris merupakan anggapan individu bahwa budaya yang dimilikinya adalah yang terbaik
e.    Etnis merupakan penggolongan manusia atau kelompo tertentu berdasarkan ciri-ciri kebiasaa
f.     Ras merupakan pengklasifikasian manusia berdasarkan karekteristik fisik
g.    Etnografi adalah ilmu yang mempelajari tentang budaya
h.    Care adalah bimbingan atau bantuan terhadap manusia untuk optimalisasi kesehatannya
i.      Caring merupakan tindakan langsung untuk membimbing menuju kesehatan yang optimal
j.      Cultural care kemampuan kognitif untuk mencapai caring
k.    Cultural imposition merupakan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan keyakinan yang dimiliki.
Disamping teori Leininger, terdapat The giger and Davidhizer Transcultural Assesment model dan Purnel Model for Cultural Competence. Model giger dan davidhidzer menyatakan terdapat 6 fenomena transkultural yaitu environmental control, biological variation, social organitation, communication, space, dan time orientation. Sedangkan purnel model membagi perawatan transkultural dalam 12 domain yaitu overview atau heritage, communication, family roles and organzation, workforce, biocultural ecology, high risk behavior, pregnancy and childbearing practice, death rituals, health care practice, dan health care practitioner (Gulbu Tortumluoglu, 2006).
Proses perawatan transkultural meliputi pengkajian, diangnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi. Pengkajian keperawatan transkultural berdasarkan pada sunrise model yaitu faktor teknologi, agama dan falsafah hidup, faktor sosial dan keterikatan keluarga, nilai nilai budaya dan gaya hidup, faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku, faktor ekonomi dan pendidikan. Dalam melakukan pengkajian budaya perawat diharapkan tidak menggunakan asumsi, tidak membuat streotip, menerima dan memahami metode komunikasi, menghargai perbedaan individual, mengahrgai kebutuhab personal, tidak boleh membedakan keyakinan klien, dan menjaga privasi (Bacote, 2002).
Strategi dalam keperawatan transkultural meliputi mempertahankan, menegosiasi, dan mengubah budaya. Mempertahankan budaya dilakukan apabila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan dengan klien. Negosiasi budaya dlakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan, sedangkan mengganti kebudayaan diberikan ketika budaya klien merugikan kesehatan.contoh dari mengganti kebudayaan yaitu perawat merestrukturisasi kebiasaan merokok menjadi tidak merokok (Bacote, 2002).
Pengaruh kebudayaan terhadap keputusan penyelesaian masalah kesehatan sangatlah besar. Manusia hidup dalam suatu komunitas tertentu yang di dalam nya terdapat aturan yang diwariskan secara turun menurun. Aturan tersebut mendasari manusia dalam berpikir dan bertindak.begitu juga dengan persepsi sehat sakit, akan berbeda antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Hal ini berkaitan dengan keyakinan dalam paradigma kesehatan mengenai etiologi penyakit yaitu biomedis, naturalistik, dan magico religius (Spector, 2005).
Keperawatan transkultural merupakan keperawatan lintas budaya dengan teori keperawatan yang terkenal yaitu Leininger. Pengkajian berdasarkan model sunrise dengan menggunakan strategi mempertahankan, menegosiasi, dan mengganti kebudayaan. Pengaruh budaya terhadap kesehatan merupakan bagian penting dalam keperawatan yang tidak boleh diabaikan.